Tujuan penelitian adalah arah besar yang menjawab apa yang ingin dicapai, sedangkan sasaran penelitian adalah langkah-langkah spesifik yang membuat tujuan itu bisa dikerjakan. Hipotesis diperlukan terutama dalam penelitian kuantitatif ketika mahasiswa ingin menguji dugaan hubungan atau perbedaan antarvariabel.
Tujuan dan sasaran penelitian: perbedaan, cara menulis, dan contoh hipotesis
Dosen pembimbing sudah menyetujui topikmu, tetapi bagian “tujuan penelitian” masih dikembalikan dengan komentar seperti “terlalu umum”, “sasaran belum operasional”, atau “hipotesis tidak nyambung dengan rumusan masalah”. Situasi ini sering terjadi pada mahasiswa S1 dan S2 di Indonesia karena proposal skripsi atau tesis biasanya meminta banyak elemen yang terdengar mirip: latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat, sasaran, kerangka konsep, sampai hipotesis. Akibatnya, satu kalimat yang sama kadang dipakai berulang di beberapa bagian, hanya diganti sedikit kata kerjanya. Masalahnya, penguji biasanya melihat hubungan logis antarbagian, bukan sekadar keberadaan subjudul. Jika tujuan dan sasaran penelitian tidak rapi sejak awal, bab metode, instrumen, analisis data, dan pembahasan ikut mudah berantakan.
Tujuan penelitian adalah arah utama yang ingin dicapai penelitian, sedangkan sasaran penelitian adalah rincian langkah terukur untuk mencapai tujuan itu. Hipotesis adalah dugaan sementara yang diuji, biasanya dalam penelitian kuantitatif, dan harus selaras dengan tujuan, variabel, serta rumusan masalah.
In this guide
- Mengapa tujuan dan sasaran penelitian sering tertukar di skripsi dan tesis?
- Apa perbedaan tujuan dan sasaran penelitian?
- Bagaimana cara membuat tujuan penelitian yang jelas?
- Bagaimana menulis sasaran penelitian yang bisa dikerjakan?
- Apa hubungan tujuan penelitian dan hipotesis?
- Bagaimana contoh hipotesis penelitian ditulis untuk metode kuantitatif dan kualitatif?
- Apa perbedaan tujuan dan manfaat penelitian dalam proposal?
- Kesalahan apa yang sering dilakukan mahasiswa saat menulis tujuan, sasaran, dan hipotesis penelitian?
- Bagaimana menyelaraskan tujuan, sasaran, pertanyaan penelitian, dan bab pembahasan?
- Bagaimana mengecek draf akhir tujuan, sasaran, dan hipotesis penelitian?
Mengapa tujuan dan sasaran penelitian sering tertukar di skripsi dan tesis?
Tujuan dan sasaran penelitian sering tertukar karena keduanya sama-sama menjelaskan “arah” penelitian, tetapi berada pada tingkat ketelitian yang berbeda. Tujuan bersifat lebih luas dan menjawab capaian utama, sedangkan sasaran memecah tujuan itu menjadi tindakan penelitian yang lebih spesifik. Kebingungan makin besar ketika kampus memakai format proposal yang berbeda-beda.
Masalah format kampus yang tidak seragam
Di beberapa program studi, proposal hanya meminta “tujuan penelitian” tanpa “sasaran penelitian”. Di program lain, mahasiswa diminta menulis tujuan umum, tujuan khusus, sasaran penelitian, manfaat teoretis, manfaat praktis, dan hipotesis sekaligus. Tidak heran jika mahasiswa menulis kalimat yang mirip di semua bagian.
Contoh yang sering muncul:
“Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sosial terhadap perilaku konsumtif mahasiswa.”
Kalimat itu bisa menjadi tujuan umum, tetapi belum cukup sebagai sasaran. Sasaran perlu menjawab tindakan lebih rinci, misalnya mengukur intensitas penggunaan media sosial, mengukur tingkat perilaku konsumtif, lalu menguji hubungan atau pengaruh antara keduanya. Tanpa rincian itu, bagian metode akan sulit diturunkan.
Budaya revisi skripsi dan tesis
Dalam budaya skripsi dan tesis di kampus Indonesia, mahasiswa sering mendapat revisi bertahap: hari ini rumusan masalah, minggu depan tujuan, setelah itu metode. Padahal, bagian-bagian tersebut saling mengunci. Rumusan masalah yang kabur membuat tujuan ikut kabur; tujuan yang kabur membuat sasaran dan hipotesis ikut melebar.
Sebelum menulis tujuan, topik sebaiknya dipersempit lebih dulu. Jika topikmu masih berbunyi “pengaruh teknologi terhadap pendidikan”, gunakan logika seperti Corong pemilihan topik penelitian agar topik turun menjadi konteks, kelompok, variabel, dan masalah yang lebih jelas.
Perbedaan tingkat abstraksi
Tujuan penelitian adalah pernyataan capaian utama penelitian. Sasaran penelitian adalah rincian operasional yang membantu tujuan itu tercapai. Hipotesis penelitian adalah dugaan sementara tentang hubungan, pengaruh, atau perbedaan yang akan diuji.
Tiga istilah itu bisa berada dalam satu jalur logika. Misalnya, tujuan berbunyi “menganalisis pengaruh stres akademik terhadap kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir”. Sasaran dapat mencakup mengukur tingkat stres akademik, mengukur kualitas tidur, dan menguji pengaruh antarvariabel. Hipotesisnya bisa berbunyi “stres akademik berpengaruh negatif terhadap kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir”.
Apa perbedaan tujuan dan sasaran penelitian?
Perbedaan tujuan dan sasaran penelitian terletak pada tingkat keluasan, fungsi, dan cara menuliskannya. Tujuan menjelaskan hasil besar yang ingin dicapai, sedangkan sasaran menjelaskan langkah spesifik yang akan dilakukan untuk mencapai hasil itu. Sasaran biasanya lebih mudah dihubungkan dengan instrumen, data, dan teknik analisis.
Tabel pembeda dengan contoh konkret
| Bagian | Versi lemah | Versi lebih kuat | Alasan perbaikan |
|---|---|---|---|
| Tujuan | “Mengetahui masalah belajar online.” | “Menganalisis hubungan antara intensitas pembelajaran daring dan motivasi belajar mahasiswa S1 semester empat.” | Variabel, konteks, dan subjek lebih jelas. |
| Sasaran 1 | “Melihat mahasiswa belajar.” | “Mengukur intensitas pembelajaran daring mahasiswa S1 semester empat berdasarkan frekuensi dan durasi per minggu.” | Ada tindakan dan indikator yang bisa diukur. |
| Sasaran 2 | “Mencari motivasi mahasiswa.” | “Mengukur motivasi belajar mahasiswa menggunakan indikator ketekunan, minat, dan partisipasi.” | Konsep motivasi dibuat lebih operasional. |
| Hipotesis | “Pembelajaran daring memengaruhi mahasiswa.” | “Intensitas pembelajaran daring berhubungan positif dengan motivasi belajar mahasiswa S1 semester empat.” | Arah hubungan dan variabel dinyatakan lebih jelas. |
Tabel seperti ini membantu mahasiswa melihat bahwa kalimat akademik tidak cukup hanya “terdengar formal”. Kalimat harus bisa diterjemahkan menjadi data, instrumen, dan analisis.
Cara membedakan dari kata kerja
Tujuan biasanya memakai kata kerja seperti “menganalisis”, “mengidentifikasi”, “menjelaskan”, “mengevaluasi”, atau “mendeskripsikan”. Sasaran memakai kata kerja yang lebih dekat dengan tindakan penelitian, seperti “mengukur”, “memetakan”, “membandingkan”, “menguji”, atau “mengklasifikasikan”.
Contoh dalam psikologi sosial:
Tujuan: “Menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan akademik pada mahasiswa tingkat akhir.”
Sasaran: “Mengukur tingkat dukungan sosial”, “mengukur tingkat kecemasan akademik”, dan “menguji hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan akademik”.
Hubungan dengan rumusan masalah
Tujuan dan sasaran harus menjawab rumusan masalah, bukan membuka masalah baru. Jika rumusan masalah bertanya “Bagaimana pengaruh kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan?”, tujuan tidak boleh tiba-tiba membahas loyalitas merek kecuali variabel itu memang ada dalam rumusan masalah.
Jika kamu masih kesulitan menurunkan topik ke rumusan masalah, pola Corong ide penelitian menuju satu fokus masalah bisa dipakai sebelum masuk ke tujuan. Fokus masalah yang jelas biasanya membuat tujuan lebih mudah ditulis.
Bagaimana cara membuat tujuan penelitian yang jelas?
Cara membuat tujuan penelitian yang jelas dimulai dari rumusan masalah, bukan dari kalimat umum tentang topik. Tujuan harus menyebut tindakan penelitian, objek atau variabel utama, subjek, dan konteks yang relevan. Kalimatnya boleh singkat, tetapi tidak boleh meninggalkan unsur yang membuat penelitian bisa dikerjakan.
Langkah menulis tujuan dari rumusan masalah
Gunakan proses berikut saat mengubah rumusan masalah menjadi tujuan penelitian:
- Tulis ulang rumusan masalah utama dalam satu kalimat tanya.
- Tandai variabel, konsep, atau fenomena yang akan diteliti.
- Tentukan kata kerja penelitian yang tepat: mendeskripsikan, menganalisis, menguji, mengevaluasi, atau membandingkan.
- Tambahkan subjek dan konteks, misalnya “mahasiswa tingkat akhir”, “pasien lansia pascarawat”, atau “karyawan generasi Z”.
- Cek apakah tujuan itu bisa diturunkan menjadi metode, data, dan teknik analisis.
Contoh rumusan masalah: “Apakah beban kerja berhubungan dengan burnout pada perawat IGD?”
Tujuan: “Menganalisis hubungan antara beban kerja dan burnout pada perawat IGD di rumah sakit X.”
Pola kalimat yang aman dipakai
Untuk skripsi atau tesis, pola berikut biasanya cukup aman:
- “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara [variabel X] dan [variabel Y] pada [subjek] di [konteks].”
- “Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan [fenomena] pada [kelompok/subjek] dalam [konteks].”
- “Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi [program/kebijakan/intervensi] berdasarkan [kriteria] pada [lokasi/kasus].”
- “Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan [kelompok A] dan [kelompok B] dalam hal [variabel/indikator].”
Dalam ilmu kesehatan atau keperawatan, tujuan bisa berbunyi: “Menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi lansia yang menjalani perawatan di rumah.” Kalimat ini jelas karena subjek, variabel, dan konteksnya tidak mengambang.
Contoh versi lemah dan versi lebih kuat
| Versi lemah | Versi lebih kuat |
|---|---|
| “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien.” | “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dan kepuasan pasien rawat inap di ruang penyakit dalam rumah sakit X.” |
| “Penelitian ini bertujuan untuk membahas motivasi kerja.” | “Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap motivasi kerja karyawan generasi Z pada perusahaan ritel X.” |
| “Penelitian ini bertujuan untuk melihat pembelajaran matematika.” | “Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model problem-based learning dalam meningkatkan partisipasi siswa kelas VIII pada pembelajaran matematika.” |
Perhatikan bahwa versi lebih kuat tidak selalu lebih panjang karena banyak hiasan bahasa. Kalimat menjadi lebih baik karena unsur penelitiannya lengkap.
Bagaimana menulis sasaran penelitian yang bisa dikerjakan?
Sasaran penelitian yang bisa dikerjakan harus memecah tujuan umum menjadi beberapa tindakan penelitian yang spesifik. Setiap sasaran idealnya berhubungan dengan data yang akan dikumpulkan, indikator yang akan diamati, atau analisis yang akan dilakukan. Jika satu sasaran tidak bisa dijawab oleh metode, sasaran itu perlu direvisi.
Ubah tujuan besar menjadi tujuan khusus
Di banyak proposal kampus Indonesia, sasaran penelitian sering ditulis sebagai “tujuan khusus”. Fungsinya mirip: memecah tujuan umum menjadi bagian yang lebih kecil. Jumlahnya tidak harus banyak; tiga sampai lima sasaran biasanya cukup untuk skripsi atau tesis, tergantung desain penelitian.
Contoh tujuan umum:
“Menganalisis pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung mahasiswa S1.”
Sasaran penelitian:
- Mengukur tingkat literasi keuangan mahasiswa S1.
- Mengukur perilaku menabung mahasiswa S1.
- Menguji pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung mahasiswa S1.
Tiga sasaran itu langsung memberi sinyal tentang data yang dibutuhkan: skor literasi keuangan, skor perilaku menabung, dan analisis hubungan atau pengaruh.
Cocokkan sasaran dengan metode
Sasaran penelitian kuantitatif biasanya memakai kata kerja seperti “mengukur”, “menguji”, “membandingkan”, atau “menganalisis pengaruh”. Sasaran penelitian kualitatif lebih sering memakai kata kerja seperti “menggali”, “mendeskripsikan”, “menginterpretasikan”, atau “memetakan pengalaman”.
Contoh pendidikan kualitatif:
Tujuan: “Mendeskripsikan pengalaman guru sekolah dasar dalam menerapkan asesmen formatif pada Kurikulum Merdeka.”
Sasaran:
- Menggali pemahaman guru tentang asesmen formatif.
- Mendeskripsikan strategi guru dalam memberi umpan balik kepada siswa.
- Mengidentifikasi kendala guru saat menerapkan asesmen formatif di kelas.
Sasaran tersebut tidak memaksa adanya hipotesis statistik, karena fokusnya adalah pengalaman dan makna.
Hindari sasaran yang terlalu mirip manfaat
Sasaran bukan janji dampak. Kalimat seperti “meningkatkan kualitas pendidikan” atau “membantu rumah sakit membuat kebijakan” lebih cocok masuk bagian manfaat praktis, bukan sasaran. Sasaran harus berada dalam kendali penelitian.
Bandingkan:
Lemah: “Meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penelitian ini.”
Lebih kuat: “Mendeskripsikan perubahan partisipasi siswa selama penerapan model pembelajaran berbasis proyek.”
Peneliti mahasiswa biasanya tidak bisa menjamin peningkatan motivasi hanya lewat penelitian. Yang bisa dilakukan adalah mengamati, mengukur, menganalisis, atau mendeskripsikan.
Apa hubungan tujuan penelitian dan hipotesis?
Tujuan penelitian dan hipotesis saling berhubungan ketika penelitian berusaha menguji dugaan tertentu tentang variabel. Tujuan menyatakan apa yang akan dianalisis atau diuji, sedangkan hipotesis menyatakan prediksi sementara tentang hasil hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Tidak semua penelitian membutuhkan hipotesis, terutama penelitian kualitatif eksploratif.
Kapan hipotesis dibutuhkan?
Hipotesis biasanya dibutuhkan dalam penelitian kuantitatif, terutama jika ada variabel independen dan dependen. Misalnya, penelitian manajemen tentang pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja karyawan membutuhkan hipotesis karena ada dugaan pengaruh yang dapat diuji secara statistik.
Contoh:
- Tujuan: “Menguji pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja karyawan generasi Z.”
- Hipotesis: “Kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan generasi Z.”
Hipotesis tidak boleh muncul tiba-tiba. Jika tujuan tidak menyebut hubungan, pengaruh, atau perbedaan, hipotesis statistik biasanya terasa dipaksakan.
Kapan hipotesis tidak diperlukan?
Penelitian kualitatif tidak selalu memakai hipotesis karena tujuannya sering menggali pengalaman, makna, proses, atau persepsi. Dalam penelitian hukum normatif atau kajian konseptual, mahasiswa mungkin lebih tepat menulis argumen awal, proposisi, atau fokus analisis, bukan hipotesis statistik.
Contoh dalam hukum:
Tujuan: “Menganalisis perlindungan hukum bagi konsumen dalam transaksi e-commerce berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan regulasi terkait.”
Bagian ini tidak harus memiliki hipotesis berbentuk “X berpengaruh terhadap Y” karena penelitian bertumpu pada analisis norma, bukan pengukuran variabel.
Hubungan logis antara variabel
Variabel independen adalah variabel yang diduga memengaruhi. Variabel dependen adalah variabel yang diduga dipengaruhi. Hipotesis menyatakan hubungan antara keduanya dengan arah yang jelas jika teori mendukung arah tersebut.
Contoh dalam psikologi:
- Variabel independen: dukungan sosial.
- Variabel dependen: kecemasan akademik.
- Hipotesis: “Dukungan sosial berhubungan negatif dengan kecemasan akademik pada mahasiswa tingkat akhir.”
Kalimat itu lebih jelas daripada “ada hubungan antara dukungan sosial dan mahasiswa” karena variabel dan arahnya tampak.
Bagaimana contoh hipotesis penelitian ditulis untuk metode kuantitatif dan kualitatif?
Contoh hipotesis penelitian paling cocok ditulis untuk penelitian kuantitatif yang menguji hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Untuk penelitian kualitatif, mahasiswa biasanya tidak menulis hipotesis statistik, tetapi dapat menulis fokus penelitian atau proposisi awal jika diminta oleh pedoman kampus. Bentuk hipotesis harus mengikuti tujuan, desain, dan jenis data.
Contoh hipotesis kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis bisa berbentuk hipotesis alternatif dan hipotesis nol. Hipotesis alternatif (Ha) menyatakan adanya hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Hipotesis nol (H0) menyatakan tidak adanya hubungan, pengaruh, atau perbedaan.
Contoh ilmu kesehatan:
- Tujuan: “Menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2.”
- Ha: “Terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2.”
- H0: “Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2.”
Jika teori mendukung arah, hipotesis bisa lebih spesifik: “Pengetahuan gizi yang lebih tinggi berhubungan dengan kepatuhan diet yang lebih baik pada pasien diabetes melitus tipe 2.”
Contoh untuk penelitian pendidikan
Dalam pendidikan, hipotesis sering muncul saat mahasiswa membandingkan model pembelajaran atau menguji pengaruh media pembelajaran.
Contoh:
- Tujuan: “Menguji pengaruh penggunaan media video interaktif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VII.”
- Hipotesis: “Penggunaan media video interaktif berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas VII.”
Jika penelitian membandingkan dua kelas, hipotesis bisa berbunyi: “Terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang menggunakan media video interaktif dan siswa yang menggunakan metode ceramah.”
Hipotesis seperti ini harus didukung desain penelitian yang sesuai. Jika tidak ada kelompok pembanding, jangan menulis hipotesis perbedaan antar kelompok.
Contoh untuk penelitian kualitatif
Penelitian kualitatif biasanya memakai pertanyaan penelitian, bukan hipotesis. Jika pedoman kampus meminta “dugaan awal”, tulislah secara hati-hati agar tidak mengunci hasil sebelum data dikumpulkan.
Contoh:
- Tujuan: “Mendeskripsikan pengalaman mahasiswa rantau dalam menyesuaikan diri pada tahun pertama kuliah.”
- Fokus penelitian: “Penelitian ini berfokus pada bentuk tantangan adaptasi akademik, sosial, dan emosional yang dialami mahasiswa rantau pada tahun pertama kuliah.”
Kalimat itu tidak memaksa hubungan sebab-akibat. Peneliti tetap terbuka terhadap temuan lapangan.
Apa perbedaan tujuan dan manfaat penelitian dalam proposal?
Perbedaan tujuan dan manfaat penelitian terletak pada pertanyaan yang dijawab. Tujuan menjawab “apa yang akan dilakukan atau dicapai oleh penelitian”, sedangkan manfaat menjawab “siapa yang dapat menggunakan hasil penelitian dan untuk apa”. Tujuan berada di dalam proses penelitian; manfaat berada pada kegunaan hasil penelitian.
Tujuan menjelaskan kerja penelitian
Tujuan harus realistis dalam batas waktu, data, dan kemampuan mahasiswa. Jika tujuan berbunyi “menghapus kemiskinan di wilayah X”, kalimat itu bukan tujuan penelitian skripsi atau tesis. Tujuan yang lebih tepat adalah “menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi partisipasi masyarakat dalam program pemberdayaan ekonomi di wilayah X”.
Tujuan berkaitan langsung dengan:
- rumusan masalah,
- variabel atau fenomena,
- subjek penelitian,
- metode,
- hasil analisis.
Jika salah satu unsur itu tidak terlihat, tujuan biasanya masih terlalu umum.
Manfaat menjelaskan kegunaan hasil
Manfaat penelitian dapat dibagi menjadi manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis menjelaskan kontribusi terhadap konsep, teori, atau literatur. Manfaat praktis menjelaskan kegunaan bagi pihak tertentu, seperti sekolah, rumah sakit, perusahaan, pemerintah daerah, atau mahasiswa lain.
Contoh manfaat praktis: “Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi manajemen rumah sakit dalam merancang edukasi kepatuhan diet bagi pasien diabetes melitus tipe 2.”
Kalimat itu tidak cocok sebagai tujuan karena peneliti tidak sedang “merancang program edukasi” kecuali memang itu desain penelitiannya.
Perbandingan singkat tujuan, sasaran, dan manfaat
| Elemen | Menjawab pertanyaan | Contoh |
|---|---|---|
| Tujuan | Apa capaian utama penelitian? | “Menganalisis hubungan antara stres akademik dan kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir.” |
| Sasaran | Langkah apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan? | “Mengukur tingkat stres akademik, mengukur kualitas tidur, dan menguji hubungan keduanya.” |
| Manfaat teoretis | Apa kontribusi pada kajian ilmiah? | “Memberi tambahan kajian tentang faktor psikologis yang berkaitan dengan kualitas tidur mahasiswa.” |
| Manfaat praktis | Siapa yang dapat menggunakan hasilnya? | “Menjadi masukan bagi layanan konseling kampus dalam menyusun program manajemen stres.” |
Jika kamu mencari “perbedaan tujuan dan manfaat penelitian”, ingat pemisah utamanya: tujuan adalah pekerjaan penelitian, manfaat adalah kegunaan setelah penelitian selesai.
Kesalahan apa yang sering dilakukan mahasiswa saat menulis tujuan, sasaran, dan hipotesis penelitian?
Kesalahan paling umum adalah menulis tujuan yang terlalu luas, sasaran yang tidak bisa diukur, dan hipotesis yang tidak sesuai dengan variabel. Kesalahan lain muncul saat mahasiswa mencampur tujuan dengan manfaat atau menyalin rumusan masalah tanpa mengubahnya menjadi tindakan penelitian. Setiap kesalahan biasanya terlihat jelas ketika kalimat diuji dengan pertanyaan: “data apa yang dibutuhkan?”
Lima kesalahan yang sering muncul
-
Menulis tujuan sebagai slogan besar
Contoh mahasiswa: “Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.”
Perbaikan: Ubah menjadi capaian yang bisa diteliti, misalnya “mendeskripsikan penerapan asesmen formatif oleh guru kelas IV di sekolah dasar X.” -
Memakai kata “mengetahui” untuk semua hal
Contoh mahasiswa: “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian.”
Perbaikan: Gunakan kata kerja yang lebih tepat, misalnya “menganalisis pengaruh promosi digital terhadap keputusan pembelian produk skincare pada mahasiswa S1.” -
Menulis sasaran tanpa indikator
Contoh mahasiswa: “Mengukur motivasi mahasiswa.”
Perbaikan: Tambahkan indikator atau batasan, misalnya “mengukur motivasi belajar mahasiswa berdasarkan ketekunan, minat, dan keterlibatan dalam aktivitas kelas.” -
Membuat hipotesis tanpa arah variabel yang jelas
Contoh mahasiswa: “Ada pengaruh antara stres dan mahasiswa.”
Perbaikan: Sebutkan variabel secara lengkap, misalnya “stres akademik berpengaruh negatif terhadap kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir.” -
Mencampur tujuan dengan manfaat praktis
Contoh mahasiswa: “Penelitian ini bertujuan untuk membantu perusahaan meningkatkan loyalitas pelanggan.”
Perbaikan: Tujuan penelitian bisa menjadi “menganalisis pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas pelanggan pada pengguna aplikasi X”; manfaat praktisnya baru menjelaskan masukan bagi perusahaan.
Kenapa kesalahan kecil berdampak besar?
Kalimat tujuan yang kabur biasanya membuat bab metode tidak stabil. Dosen dapat bertanya: “kalau tujuannya meningkatkan, mana intervensinya?”, “kalau mau mengukur, mana instrumennya?”, atau “kalau mau menguji pengaruh, apa variabel independen dan dependennya?”
Masalah seperti ini juga memengaruhi bab pembahasan. Jika sasaran tidak jelas, hasil penelitian sulit disusun sesuai urutan. Karena itu, sebelum menulis bab metode, pastikan tiap sasaran punya pasangan berupa data, instrumen, atau teknik analisis.
Bagaimana menyelaraskan tujuan, sasaran, pertanyaan penelitian, dan bab pembahasan?
Penyelarasan dilakukan dengan membuat setiap rumusan masalah memiliki pasangan tujuan, sasaran, data, dan bagian pembahasan. Jika satu elemen tidak punya pasangan, struktur penelitian perlu dirapikan. Cara paling mudah adalah membuat matriks keselarasan sebelum menulis bab metode.
Gunakan matriks keselarasan
Matriks keselarasan membantu mahasiswa melihat apakah alur proposal sudah konsisten. Formatnya bisa sederhana:
| Rumusan masalah | Tujuan | Sasaran | Data yang dibutuhkan | Pembahasan |
|---|---|---|---|---|
| Apakah literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku menabung mahasiswa? | Menganalisis pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung mahasiswa. | Mengukur literasi keuangan, mengukur perilaku menabung, menguji pengaruh keduanya. | Skor literasi keuangan dan skor perilaku menabung. | Pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung. |
| Bagaimana pengalaman guru menerapkan asesmen formatif? | Mendeskripsikan pengalaman guru dalam menerapkan asesmen formatif. | Menggali pemahaman, strategi, dan kendala guru. | Wawancara guru dan dokumen pembelajaran. | Tema pengalaman guru dalam asesmen formatif. |
Matriks ini sederhana, tetapi sangat berguna saat revisi. Kamu bisa melihat bagian mana yang tidak sejajar sebelum dosen menunjukkannya.
Hubungkan dengan pertanyaan penelitian
Pertanyaan penelitian adalah jembatan antara topik dan tujuan. Jika pertanyaan penelitian terlalu luas, tujuan ikut melebar. Jika pertanyaan terlalu sempit, penelitian bisa kehabisan bahan pembahasan.
Untuk menajamkan pertanyaan, gunakan pola seperti Corong visual untuk menyusun pertanyaan penelitian yang fokus. Mulailah dari topik besar, pilih konteks, tentukan subjek, tetapkan variabel atau fenomena, lalu ubah menjadi pertanyaan yang bisa dijawab.
Contoh:
- Topik besar: kesehatan mental mahasiswa.
- Fokus: stres akademik dan kualitas tidur.
- Subjek: mahasiswa tingkat akhir.
- Pertanyaan: “Bagaimana hubungan antara stres akademik dan kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir?”
- Tujuan: “Menganalisis hubungan antara stres akademik dan kualitas tidur mahasiswa tingkat akhir.”
Cek konsistensi sampai bab pembahasan
Bab pembahasan sebaiknya mengikuti urutan sasaran atau pertanyaan penelitian. Jika sasaran pertama mengukur stres akademik, pembahasan awal dapat menjelaskan tingkat stres akademik. Jika sasaran kedua mengukur kualitas tidur, bagian berikutnya membahas kualitas tidur. Jika sasaran ketiga menguji hubungan, pembahasan akhir menjelaskan hubungan keduanya dengan teori dan temuan sebelumnya.
Urutan ini membuat tulisan lebih mudah dibaca. Penguji juga lebih mudah melihat bahwa setiap bagian proposal dan laporan akhir saling terhubung.
Bagaimana mengecek draf akhir tujuan, sasaran, dan hipotesis penelitian?
Draf akhir dapat dicek dengan melihat apakah setiap tujuan, sasaran, dan hipotesis punya pasangan dalam rumusan masalah, metode, dan analisis data. Kalimat yang tidak bisa dipasangkan biasanya terlalu luas, terlalu normatif, atau tidak sesuai desain penelitian. Pemeriksaan akhir sebaiknya dilakukan sebelum proposal dikirim ke dosen pembimbing.
Tes satu kalimat
Gunakan tes satu kalimat untuk tujuan penelitian. Jika tujuanmu tidak bisa menjawab “siapa, apa, di mana/konteks apa, dan dengan tindakan penelitian apa”, kalimat itu perlu diperbaiki.
Contoh: “Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh beban kerja terhadap burnout pada perawat IGD di rumah sakit X.”
Kalimat itu menyebut tindakan, variabel, subjek, dan konteks. Dari sana, sasaran dan hipotesis bisa diturunkan tanpa lompatan besar.
Tes pasangan metode
Setiap sasaran harus punya metode. Jika sasarannya “mengukur tingkat kecemasan akademik”, kamu perlu instrumen atau indikator kecemasan akademik. Jika sasarannya “menggali pengalaman pasien”, kamu perlu wawancara, observasi, atau data kualitatif lain yang relevan.
Hipotesis juga harus punya teknik analisis yang sesuai. Hipotesis hubungan biasanya membutuhkan korelasi atau regresi, tergantung desain dan jenis data. Hipotesis perbedaan membutuhkan teknik uji beda yang sesuai dengan kelompok dan distribusi data.
Before you move on: checklist tujuan, sasaran, dan hipotesis penelitian
- Tujuan penelitian menjawab rumusan masalah utama.
- Tujuan menyebut variabel, fenomena, subjek, atau konteks secara jelas.
- Sasaran penelitian memecah tujuan menjadi langkah yang bisa dikerjakan.
- Setiap sasaran punya data, indikator, instrumen, atau sumber informasi.
- Kata kerja tujuan sesuai dengan desain penelitian: kuantitatif, kualitatif, kajian konsep, atau tinjauan pustaka.
- Hipotesis hanya ditulis jika desain penelitian memang membutuhkan pengujian dugaan.
- Hipotesis menyebut variabel dan arah hubungan jika teori mendukung.
- Bagian manfaat tidak bercampur dengan tujuan atau sasaran.
- Urutan sasaran sesuai dengan urutan pembahasan yang akan ditulis.
- Tidak ada variabel baru yang muncul di hipotesis tetapi tidak ada di tujuan.
- Kalimat tujuan, sasaran, dan hipotesis tidak sekadar menyalin latar belakang.
- Draf sudah dicek dengan matriks keselarasan sebelum dikirim ke pembimbing.
Tautan internal yang direkomendasikan
(Metadata sistem penyusun — jangan hapus bagian ini)
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya tujuan dan sasaran penelitian?
Tujuan penelitian adalah capaian utama yang ingin diperoleh dari penelitian. Sasaran penelitian adalah langkah-langkah spesifik yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Jika tujuan berbunyi “menganalisis pengaruh X terhadap Y”, sasaran dapat berupa mengukur X, mengukur Y, dan menguji pengaruh X terhadap Y.
Berapa banyak tujuan dan sasaran penelitian yang ideal?
Satu tujuan umum biasanya cukup untuk skripsi atau tesis, lalu diikuti tiga sampai lima sasaran atau tujuan khusus. Jumlahnya bergantung pada rumusan masalah dan desain penelitian. Jangan menambah sasaran hanya agar terlihat banyak jika tidak ada data atau analisis yang mendukung.
Apakah mahasiswa S1 harus selalu menulis hipotesis penelitian?
Tidak selalu. Mahasiswa S1 perlu menulis hipotesis jika penelitiannya kuantitatif dan menguji hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Jika penelitian bersifat kualitatif, kajian hukum normatif, konseptual, atau tinjauan pustaka, bagian hipotesis bisa diganti dengan fokus penelitian, argumen awal, atau pertanyaan penelitian sesuai pedoman kampus.
Bagaimana cara membuat tujuan penelitian dari judul skripsi?
Ambil variabel atau fenomena utama dari judul, lalu ubah menjadi kalimat tindakan penelitian. Misalnya judul “Pengaruh Literasi Keuangan terhadap Perilaku Menabung Mahasiswa” dapat menjadi tujuan “menganalisis pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung mahasiswa”. Tambahkan subjek dan konteks jika belum terlihat.
Apa perbedaan tujuan dan manfaat penelitian?
Tujuan menjelaskan apa yang dilakukan penelitian, sedangkan manfaat menjelaskan kegunaan hasil penelitian. Tujuan berada dalam kendali peneliti, seperti mengukur, menganalisis, atau mendeskripsikan. Manfaat menjelaskan pihak yang dapat menggunakan hasilnya, seperti sekolah, rumah sakit, perusahaan, atau peneliti berikutnya.
Apakah tujuan penelitian dan hipotesis harus memakai variabel yang sama?
Ya, jika penelitianmu kuantitatif, variabel dalam hipotesis harus selaras dengan tujuan penelitian. Jangan menulis hipotesis tentang variabel yang tidak muncul dalam tujuan atau rumusan masalah. Ketidaksamaan variabel biasanya membuat metode dan analisis data ikut tidak konsisten.



